Minggu, 30 Agustus 2015

Kanot Bu, Berkarya Lewat Seni Kreatif

Walaupun kanot bu merupakan dua kata dalam bahasa Aceh yang secara harfiah berarti periuk nasi, namun Komunitas Kanot Bu tidak ada hubungannya dengan acara masak memasak.

Komunitas Kanot Bu merupakan sebuah organisasi yang beranggotakan anak muda kreatif, sudah terkenal di Banda Aceh dan sekitarnya. Komunitas ini telah menerbitkan banyak karya.
Dalam bidang tulisan, tujuh judul buku sastra telah dilahirkan. Empat judul film dokumentasi pun sudah dihasilkan. Dan masih banyak lagi karya lainnya dari Komunitas Kanot Bu.

Dalam sebuah wawancara di Banda Aceh pada 15 Agustus 2015, Ketua Komunitas Kanot Bu, Idrus bin Harun, mengatakan, dari sekian karya Komunitas Kanot Bu, hanya kaos Geulanceng yang dipasarkan secara komersial. Itupun setelah menekan harga se-ci’ep (serendah) mungkin.

Kaos Geulanceng merupakan karya Komunitas Kanot Bu yang paling terkenal dan terbanyak jumlahnya. Kaos yang bertuliskan kalimat menggelitik dari bahasa Aceh ini dihasilkan secara rutin dalam setiap sebulan atau dua bulan sekali.

Idrus mengatakan, peminat karya Komunitas Kanot Bu datang dari berbagai tempat. Tidak saja dari dalam, ada juga dari luar Aceh. Bahkan ada yang dari luar negeri.

“Itu merupakan hal biasa. Kami mempromosikan karya melalui media sosial sehingga terjangkau ke wilayah negara manapun yang menggunakan internet. Saya tidak bisa memastikan peminat karya Komunitas Kanot Bu datang dari mana saja. Belum pernah dibuat survei untuk itu,” kata Idrus.

Ia menjelaskan, Komunitas Kanot Bu berfokus pada menghasilkan karya. Dengan menghasilkan karya secara terus menerus, Idrus menyakini peminat akan muncul sendiri tanpa diundang.
Walaupun anggotanya datang dan pergi silih berganti, ada sekira sepuluh orang selalu berkerasi di Komunitas Kanot Bu. Mereka saling berbagi untuk berkarya. Kemudian mengumpulkan uang secara patungan untuk mengenalkan karya itu kepada masyarakat.

Saat ini, selain Idrus bin Harun, di dalam Komunitas Kanot Bu ada Reza Mustafa, Fuady Keulayu, Deddy Firtana Iman, Fajri Ben Ishak, Zamroe, Fajri Castro, Cut Dini Desita, Meyna, Edi M Mustafa, dan Fira.

“Baru-baru ini hadir pula Muhadzir Maop, Mansyah, dan T Fajriman di dalam kegiatan Komunitas Kanot Bu. Zulham Yusuf pun merupakan seorang yang berperan di Komunitas Kanot Bu akhir-akhir ini,” kata Idrus yang dilahirkan di Meureudu pada 11 Oktober 1981 ini.

Sejarah Lahirnya Komunitas Kanot Bu

Idrus mengatakan, lahirnya Komunitas Kanot Bu berawal dari selembar spanduk yang dibuat oleh dirinya dan kawan-kawan.

Pada pertengahan 2008, ada peristiwa unik di Aceh. Perang yang baru saja berakhir membuka kesempatan bagi siapa saja untuk masuk ke dunia politik. Orang-orang pun berebutan mencalonkan diri menjadi anggota legislatif seraya membanggakan partai masing-masing.

Sebagian partai itu bahkan baru lahir. Orang-orang itu berkampanye dengan menempelkan gambar wajah di berbagai baliho, spanduk, dan bentuk iklan lainnya.

Idrus dan kawan-kawan yang merupakan sekumpulan anak muda kreatif dan peka pun tergerak hatinya untuk menyikapi keadaan saat itu. Lalu mereka membuat sebuah spanduk.

“Meunyoe Jabatan Ka Di Bloe, ‘Oh Hajat Sampoe Di Tarek Laba” Partai Kanot Bu. Begitulah tertulis di spanduk bersejarah tersebut.

Itu sebuah sindiran untuk calon legislatif dari partai politik yang dinilai mencalonkan dirinya sebagai anggota legislatif dengan tujuan mencari pekerjaan, mengisi periuk nasi.

Spanduk tersebut dinaikkan di salah satu sudut pasar Meureudu, Pidie Jaya. Namun, setelah beberapa hari, spanduk itu menghilang, menurut kabar angin, diturunkan oleh aparat kepolisian setempat.

Setelahnya, kegiatan memasang spanduk sindiran tersebut didiskusikan di beberapa warung kopi. Akhirnya Idrus dan kawan-kawan sepakat membentuk sebuah komunitas dengan nama “Kanot Bu” seperti yang telah dituliskan dalam spanduk tersebut. Komunitas Kanot Bu.

Tidak sebagaimana isi spanduk pertama mereka berisi kalimat politis, Komunitas Kanot Bu mengambil tema kebudayaan sebagai landasan utama pergerakannya.

Kini, Komunitas Kanot Bu telah membentuk empat Lini Aksi sebagai wadah pengekspresian para anggotanya sesuai selera seninya masing-masing.

Lini Aksi tersebut terdiri dari lini desain grafis yang mengkhususkan diri mendesain dan mencetak kaos-kaos khas Aceh bernama Geulanceng, lini perfilman dan fotografi bernama LensaKiri, lini penerbitan buku-buku indie bernama Tansopako Press, serta lini hikayat dan musik etnik bernama Seungkak Malam Seulanyan.

“Beberapa bulan terakhir Komunitas Kanot Bu mengadakan diskusi rutin tentang seni yang diberi nama Terassore. Diskusi ini menghadirkan pembicara yang bergelut di dunia seni, baik praktisi maupun akademisi. Terassore masih berlansung hingga sekarang,” kata Idrus.

Idrus yang pernah mengajar di SD 48 Banda Aceh dari tahun 2004 sampai 2012 ini mengatakan, dalam perjalanannya, Komunitas Kanot Bu sering berkomunikasi dengan Qiu manejemen yang membawahi Amroe and Pane Band.

“Kami ingin terus melahirkan karya. Sejauh ini komunitas ini tidak menerima anggota baru karena siapa saja yang datang dan bergabung, asal sesuai dan seide dipersilakan,” kata lulusan DII PGSD Unsyiah ini.

Apabila ingin memiliki kaos Geulanceng, silakan kirim pesan ke inbox akun facebook.com Geulanceng Trademark. Atau, kunjungi Bivak Emperom di Simpang Dodik, Banda Aceh.[]

Telah diterbitkan cetak Edisi II (86) Pikiran Merdeka 18-23 Agustus 2015. - See more at: http://pikiranmerdeka.co/2015/08/24/kanot-bu-berkarya-lewat-seni-kreatif/#sthash.53DIr5kS.dpuf
Tulisan ini sebelumnya telah diterbitkan cetak Edisi II (86) Pikiran Merdeka18-23 Agustus 2015.

TerasSore, Seni Rupa, dan Idrus bin Harun

Oleh Firdaus Yusuf

Di TerasSore, dua kurator muda bercerita seputar dunia kuratorial. Tulisan ini mencoba merangkumnya meskipun tidak dengan sebuah detail informasi yang utuh. Selain itu, tulisan ini juga mencoba mengetengahkan perjalanan karir melukis Idrus bin Harun.

DUDUK di antara dinding-dinding yang dipenuhi mural tentang berbagai isu sosial kekinian di Aceh, di bawah langit kota Banda Aceh, Rabu, (24/6/2015) sore, Amroe & Pane Band, sebuah band indie Aceh, menyanyikan lagu dengan suara yang agak pelan. Diiringi petikan gitar dan dentaman cajon (drum akustik), Zulfan, bersama dua rekannya—Muhammad Iqbal dan Erol—membuka acara diskusi TerasSore yang digelar Komunitas Kanot Bu di BilikRoepa PaskaDOM, Bivak Emperoom.

Beberapa menit kemudian, lirih terdengar: “seulanga tinggai tangke”, dari mulut Zulfan, yang sekaligus menandakan berakhirnya lagu itu.

Daun-daun akasia yang menjadi atap ruangan itu luruh dari dahan. Sekejap kemudian, Muhadzier M Salda, yang sore itu mengenakan kaus hitam dan jins biru, bangkit dari tempat duduknya dan berdiri di tengah-tengah ruangan yang pada Desember 2004 silam dihantam tsunami. Pembawa acara TerasSore itu membenarkan letak kopiah beludru di kepalanya, kemudian menyampaikan sepatah dua patah salam pembuka.

“TerasSore hari ini merupakan kali kedua setelah sebelumnya kita mengadakan diskusi bertajuk musik dan kepekaan sosial,” katanya di depan puluhan peserta diskusi yang hadir. “Hari ini kita kedatangan dua kurator muda Jakarta Biennale 2015,” sambungnya.

Dua kurator Jakarta Biennale 2015—dari enam kurator lainnya—yang dimaksud Muhadzier: Putra Hidayatullah dan Asep Topan. Keduanya menjadi pembicara diskusi, yang pada sore itu mengangkat tema: “Rupa Membongkar Kepura-puraan”.

Jakarta Biennale merupakan ajang perhelatan seni rupa kontemporer dua tahunan. Selain mengadakan pameran seni rupa berskala internasional pada 15 November 2015 hingga 17 Januari 2015 nanti, Jakarta Biennale juga mengadakan sejumlah program lainnya, yaitu seminar, lokakarya, edukasi publik, dan panggung pertunjukan. Kali ini pertama kalinya diselenggarakan oleh Yayasan Jakarta Biennale, setelah sebelumnya selalu diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) sejak 1974. Dalam Jakarta Biennale 2015 ini juga dilibatkan para kurator muda dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Aceh, Makassar, Bandung, Jakarta, dan Surabaya.

Para peserta diskusi terus berdatangan. Berhubung TerasSore kedua ini diselenggarakan pada bulan puasa. Di mana dalam poster undangannya panitia dengan gamblang menyebutkan menu buka puasa dengan taklimat, “Panitia hanya menyediakan es batu,” beberapa dari mereka datang dengan membawa kue kering, kurma, air kelapa muda, dan sejumlah makanan, juga minuman lainnya untuk hidangan berbuka puasa nanti. Lalu, mereka duduk di bangku-bangku berupa balok bekas dan beton-beton kecil yang disusun zig-zag. Sementara itu, awak Komunitas Kanot Bu tampak sibuk menyiapkan penganan, kopi, persediaan rokok, dan air timun (ie boh timon masak) yang dicampur sirup.

Muhadzdzier atau akrab disapa Maop mulanya bertanya tentang perjalanan karir kedua kurator tersebut. Kemudian disusul pertanyaan-pertanyaan lain yang ia dikembangkan dari pernyataan-pernyataan Putra Hidayatullah dan Asep Topan.

“Saya lahir dan tumbuh besar bukan dari seni,” tutur Asep dalam aksen Sunda. “Sebelum menetap di Jakarta, saya tinggal di salah satu kampung di Majalengka, jauh dari ingar-bingar kota, dan hampir tidak ada pengetahuan-pengetahuan seni rupa di sana…”

Tiba-tiba Muhadzir menyelutuk, “Tapi di sana tidak ada jam malam kan?”

Tawa pecah sesaat.

Selasa, 07 Juli 2015

Seni Rupa di Tengah Panggung Sandiwara

Bersama Komunitas Kanot Bu di Banda Aceh, dua kurator Jakarta Biennale 2015: Asep Topan dan Putra Hidayatullah berdiskusi tentang kapasitas seni dalam membahasakan realita.
Host TerasSore, Muhadzdzier M Salda

Komunitas Kanot Bu mengundang dua kurator Jakarta Biennale 2015, Asep Topan dan Putra Hidayatullah, pada 24 Juni lalu untuk mengisi Terassore, program diskusi mereka di Banda Aceh, dengan judul “Rupa Membongkar Kepura-puraan”. Komunitas Kanot Bu sendiri aktif menggunakan seni sebagai medium untuk mengkritik persoalan sosial dan membicarakan perkara kebijakan yang timpang serta sejarah kekerasan politik melalui mural, musik, kaos, dan sastra.

Praktik itulah yang dibicarakan dalam diskusi ini. Komunitas Kanot Bu ingin memperluas wawasan seni generasi muda setempat, sebab selama ini seni kerap terpinggirkan, jarang ada diskusi terkait geliat seni di Aceh. Dimoderasi oleh Muhadzir M Salda, Asep dan Putra membicarakan kapasitas seni dalam membahasakan realita. Acara ini dihadiri oleh beberapa anggota komunitas seni setempat seperti komunitas Komik Panyoet, Tikar Pandan, Akar Imaji, dan Apotik Wareuna. Hadir juga jurnalis, sineas, musisi, serta sejumlah pekerja lembaga swadaya masyarakat setempat.

Jumat, 26 Juni 2015

Notulensi Tak Resmi TerasSore Perdana

*Oleh Reza Mustafa

Kamis (11/6/2015) ba’da ashar. Adalah hari di mana Komunitas Kanot Bu, berhajat menggelar sebuah acara. TerasSore namanya. Acara yang melingkup diskusi, ngopi bersama, dan penampilan musik akustik. Direncanakan TerasSore akan dilaksanakan rutin saban bulan. Hari ini acara perdananya digelar dengan tajuk “Musik dan Kepekaan Sosial”.

Hadir dalam diskusi ini, vokalis Amroe & Pane Band, Zulfan Amroe sebagai pembicara. Ditandemi Raisa Kamila, yang akan memberikan gagasannya mewakili para penikmat musik. Muhadzdzier M Salda atau akrab dipanggil Maop jadi host. Fuady Keulayu akan tampil sebagai bintang tamu. Lagu-lagunya diharapkan tak sekadar mampu menghibur peserta tapi mampu membuka wacana berpikir mereka.

Telah ditentukan TerasSore mulai pukul 16.45. Namun sekira pukul 16.15 cuaca cerah mendadak berubah. Mendung mengepung. Tuan rumah deg-degan jika sekiranya hujan, acara mau dihalau kemana. Persiapan dadakan, publikasi dan undangan yang hanya disebar via jejaring sosial dan dari mulut ke mulut, ditambah langit kelabu pertanda akan turun hujan sedikit banyaknya bikin dahi Maop keringatan. Yang lain juga ikutan cemas. Idrus berteriak, “Mansyah, kau cari pawang hujan sana.”